Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan T
BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Di tengah zaman yang bergerak terlalu cepat dan sering melupakan mereka yang telah menua, sebuah pemandangan berbeda justru lahir dari Ruang Audio Visual Perpustakaan Daerah Bangka Barat, Sabtu (9/5/2026).
Pagi itu, bukan suara pidato formal yang paling terasa. Bukan pula seremoni pejabat yang mendominasi suasana. Yang paling hidup justru langkah-langkah pelan para lansia yang bergerak mengikuti senam pagi dengan wajah penuh kegembiraan.
Di usia senja, mereka datang bukan untuk dikenang sebagai generasi yang selesai. Mereka datang untuk membuktikan bahwa manusia tidak pernah terlalu tua untuk belajar, bertumbuh dan merasa berarti.
Dari ruang itulah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat, Farouk Yohansyah, ST., M.Pd, meluncurkan sebuah pesan sosial yang jauh lebih besar daripada sekadar program kegiatan.
Melalui kolaborasi bersama Persaudaraan Muslimah (Salimah) Bangka Barat, Farouk menghadirkan SalSa (Sekolah Lansia Salimah). Sebuah gerakan pendidikan yang mencoba mengembalikan martabat lansia di tengah masyarakat modern yang kerap meminggirkan usia tua.
Sekitar 20 lansia mengikuti pembukaan program tersebut dengan antusias. Namun di balik angka itu, tersimpan sesuatu yang lebih dalam tentang harapan.
Harapan bahwa usia lanjut bukan akhir kehidupan sosial. Harapan bahwa lansia tetap memiliki hak untuk belajar teknologi, memahami literasi digital, mengenali hoaks, mengatur keuangan, menjaga kesehatan mental, hingga tetap merasa dibutuhkan oleh lingkungan sekitarnya.
Di tangan Farouk Yohansyah, perpustakaan tidak lagi dipahami sebagai bangunan yang hanya dipenuhi rak-rak buku berdebu. Ia sedang mengubah wajah perpustakaan menjadi ruang kemanusiaan.
“Perpustakaan tidak boleh hanya menjadi tempat menyimpan buku. Perpustakaan harus menjadi tempat merawat manusia,” tegas Farouk.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi kritik keras terhadap cara banyak institusi memandang lansia selama ini.
Bagi Farouk, lansia bukan kelompok yang menunggu akhir usia di balik kesepian rumah dan keterasingan zaman digital. Lansia adalah manusia yang tetap memiliki pengalaman, nilai hidup, dan kebijaksanaan yang sangat berharga bagi masyarakat.
Karena itulah, ia memastikan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat akan mendukung penuh Sekolah Lansia Salimah melalui penguatan kurikulum literasi khusus lansia.
Di era ketika informasi palsu menyebar lebih cepat daripada kebenaran, Farouk melihat banyak lansia menjadi kelompok paling rentan terhadap manipulasi digital dan penipuan finansial.
Ia tidak ingin perpustakaan hanya sibuk berbicara soal minat baca tanpa hadir menyelesaikan persoalan nyata masyarakat.
“Lansia hari ini menghadapi tantangan yang berbeda. Mereka harus memahami teknologi, harus mampu memilah informasi dan harus terlindungi dari penipuan digital maupun persoalan finansial. Karena itu literasi menjadi benteng kehidupan,” ujarnya.












