“Ini juga daya tarik wisata. Banyak istiadat di Bangka Barat yang patut kita rawat sebagai bagian dari pembangunan daerah,” katanya.
Pandangan serupa datang dari Wakil Bupati H. Yus Derhaman.
Baginya, Perang Ketupat adalah identitas kolektif modal sosial yang tak ternilai.
Ia berbicara tentang pengembangan kawasan budaya Tempilang, tentang lahan yang disiapkan, tentang administrasi yang dirapikan agar budaya lokal punya rumah yang layak di tingkat nasional.
“Budaya ini milik kita bersama. Pemerintah membuka karpet merah bagi siapa pun yang ingin terlibat,” tegasnya.
Namun denyut terdalam Perang Ketupat justru dijaga oleh para pemangku adat.
Keman, Dukun Laut Tempilang, menyimpan filosofi itu dalam satu kata yakni ketupat. Baginya, ketupat adalah kehidupan itu sendiri.
“K adalah Kehidupan, E Etika, T Tauhid, U Umat, P Perilaku, A Agamis, dan T Tradisi,” tuturnya pelan, nyaris seperti mengaji.
Nilai-nilai ini, kata Keman, harus diwariskan agar generasi muda tak tercerabut dari akarnya.
Ia tak menampik adanya tantangan. Ada yang meragukan tradisi ini dari sudut pandang agama.
Namun dialog telah dilakukan. Kementerian Agama dilibatkan, nilai-nilai Islam dijelaskan.
Tradisi pun tetap berdiri, bukan sebagai lawan iman, melainkan sebagai medium etika dan tauhid yang membumi.
Usai perang, warga tak pulang begitu saja. Tradisi Naber Kampong digelar.
Pintu-pintu rumah terbuka. Tamu datang, hidangan disuguhkan, cerita dibagi.
Sedekah Ruah menutup seluruh rangkaian, menegaskan bahwa inti Perang Ketupat bukan pada lemparan, melainkan pada kebersamaan.
Pengamanan dilakukan tanpa mencolok. Aparat hadir sebagai penjaga ruang budaya, bukan penguasa acara.
“Seluruh rangkaian berjalan aman dan kondusif,” kata Kapolres AKBP Pradana Aditya Nugraha.
Negara, dalam wujud paling idealnya, hadir untuk memastikan tradisi berjalan dengan khidmat.
Di tengah arus modernisasi yang sering menyingkirkan kearifan lokal, Perang Ketupat Tempilang justru berdiri tegak.
Ia menjadi penanda bahwa kemajuan tak selalu berarti meninggalkan masa lalu.
Dari ketupat yang terbang di Pantai Pasir Kuning, Bangka Barat merumuskan identitasnya menyambung leluhur, merawat alam, dan menata masa depan kebudayaan yang berkelanjutan. (B5)












