Berita

Forkopimda Bangka Barat Ikut Perang di Tempilang, Ketupatpun Berterbangan Melayang di Udara

99
×

Forkopimda Bangka Barat Ikut Perang di Tempilang, Ketupatpun Berterbangan Melayang di Udara

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva

TEMPILANG, Berita5.co.id — Pantai Pasir Kuning pagi itu tidak hanya dipenuhi angin laut dan aroma asin.

Riuh sorak ribuan orang bergulung bersama ketupat-ketupat yang melayang di udara.

Di Desa Air Lintang, Tempilang, ketupat bukan sekadar makanan.

Ia menjadi peluru simbolik, dilepaskan tanpa dendam, dipungut tanpa amarah.

Di sinilah Perang Ketupat kembali digelar ritual tua yang sejak awal 1800-an menolak bala, membersihkan kampung, dan merawat ingatan kolektif masyarakat pesisir Bangka Barat.

Wajah-wajah serius bercampur tawa lepas.

Ketika ketupat menghantam dada dan bahu para peserta berseragam hitam, tak ada kemarahan yang tersisa.

Yang ada justru rasa lega, seolah konflik, iri, dan kegelisahan hidup dilepaskan bersama lemparan itu.

Perang ini memang simbolik. Kekerasan yang disucikan, dilebur dalam nilai, dan diakhiri dengan kebersamaan.

Di antara ribuan warga, hadir para pejabat dan aparat negara antara lain Bupati Bangka Barat Markus, Wakil Bupati H. Yus Derhaman, Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Mirranda, Kapolres AKBP Pradana Aditya Nugraha, hingga tokoh adat dan tokoh agama.

Namun pada hari itu, sekat-sekat jabatan mencair. Semua berdiri setara di hadapan tradisi.

Cuaca cerah dan laut yang tenang seakan turut mengafirmasi keyakinan lama orang Tempilang bahwa alam adalah bagian dari ritual.

Sebelum ketupat beterbangan, rangkaian sakral telah dijalani ngancak penimbong, penimbongan, naber kepada tamu, doa arwah, doa selamat.

Tari Serimbang dan Tari Kedidi menambah lapisan estetika, sementara dua pendekar pencak silat dari perguruan Mawar Putih memperagakan pertarungan simbolik, keras di luar, beretika di dalam.

Perang Ketupat adalah puncak bulan ruwah, menjelang Ramadan.

Sebuah jeda spiritual sebelum manusia memasuki bulan suci. Bagi masyarakat Tempilang, inilah cara bersyukur atas laut yang memberi hidup ikan, angin, dan jalan pulang.

Bupati Markus menyebut tradisi ini sebagai denyut hidup masyarakatnya.

“Perang Ketupat bukan hanya ritual adat tahunan. Ini simbol rasa syukur, tolak bala, dan perekat silaturahmi,” ujarnya.

Negara pun telah mengakui nilai itu. Sejak 2014, Perang Ketupat resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda nasional, sejajar dengan Tari Kedidi, Taber Kampung, dan Tari Serimbang.

Lebih dari sekadar pelestarian, Markus melihatnya sebagai arah pembangunan.

Budaya bukan beban masa lalu, melainkan potensi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *