Bangka BaratLokalPendidikanSosiologi

Farouk Yohansyah Menyalakan Cahaya Kedua dari Desa Air Belo: Perpustakaan Desa Menjadi Masa Depan Anak Putus Sekolah

50
×

Farouk Yohansyah Menyalakan Cahaya Kedua dari Desa Air Belo: Perpustakaan Desa Menjadi Masa Depan Anak Putus Sekolah

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim

BANGKA BARAT, Berita5.co.id — Di tengah hembusan angin embun pagi Desa Air Belo, Kecamatan Mentok, suara langkah para peserta didik menuju Perpustakaan Desa Arsita terdengar lirih namun penuh arti. Di sebuah bangunan sederhana yang berdiri di tengah desa itu, harapan-harapan yang sempat runtuh perlahan kembali disusun satu demi satu.

Sabtu, 09 Mei 2026, ruang perpustakaan yang biasanya dipenuhi rak-rak buku berubah menjadi ruang perjuangan kehidupan. Di tempat itu, anak-anak putus sekolah, para pekerja muda, hingga masyarakat dewasa yang pernah kehilangan kesempatan belajar kembali duduk di bangku pendidikan melalui program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Paket B dan Paket C.

Di tengah suasana itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat, Farouk Yohansyah, hadir bukan sekadar melakukan pemantauan birokrasi. Ia datang membawa sebuah gagasan besar untuk menjadikan perpustakaan sebagai pusat penyelamatan masa depan masyarakat desa.

Farouk berjalan menyusuri ruang belajar sederhana itu sambil memperhatikan wajah-wajah yang menunduk serius menyalin pelajaran. Ada mata yang tampak lelah karena siangnya bekerja. Ada tangan kasar yang terbiasa memegang alat kerja, kini kembali menggenggam pena. Ada pula remaja yang pernah meninggalkan sekolah karena keadaan ekonomi, kini mencoba memungut kembali cita-cita yang hampir hilang.

Di hadapan mereka, Farouk menyampaikan pesan yang lebih dalam dari sekadar program pendidikan.

“Perpustakaan tidak boleh mati sebagai gudang buku. Perpustakaan harus hidup sebagai rumah harapan, tempat masyarakat kecil menemukan kesempatan kedua untuk bangkit dan mengubah hidupnya,” tegasnya.

Kalimat itu bukan sekadar slogan. Di bawah kepemimpinannya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat mulai membangun wajah baru perpustakaan desa. Tidak lagi hanya menjadi tempat sunyi penuh buku berdebu, melainkan ruang pemberdayaan sosial, pusat literasi masyarakat, hingga tempat lahirnya gerakan pendidikan alternatif bagi mereka yang tertinggal.

Program PKBM yang dijalankan di Desa Arsita merupakan bagian dari gerakan pendidikan berbasis perpustakaan desa yang kini mulai diperluas di Bangka Barat. Program tersebut dilaksanakan oleh PKBM Permata Hati, lembaga pendidikan non formal yang dibentuk dan didorong langsung oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bangka Barat.

Saat ini, kerja sama pelaksanaan PKBM telah terjalin di 11 desa. Namun bagi Farouk Yohansyah, angka itu belum cukup. Ia ingin seluruh desa di Bangka Barat dapat menjadi titik tumbuh pendidikan masyarakat.

Sebab baginya, pendidikan bukan hanya soal ruang kelas dan seragam sekolah. Pendidikan adalah tentang bagaimana negara tetap hadir bagi masyarakat yang tertinggal.

“Masih banyak masyarakat yang putus sekolah karena kemiskinan, pekerjaan, atau keadaan keluarga. Kalau negara tidak datang menjemput mereka, maka kita sedang membiarkan masa depan hilang perlahan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!