Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio
MENTOK, Berita5.co.id — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat terus memperlihatkan keseriusannya dalam melindungi generasi muda dari ancaman kejahatan seksual tersembunyi child grooming.
Setelah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APKB) Bangka Barat menegaskan urgensi edukasi perlindungan anak, kini Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangka Barat mengambil peran strategis dengan menjadikan sekolah sebagai benteng utama pencegahan.
Langkah ini menandai pergeseran pendekatan negara dari sekadar penanganan kasus menuju pencegahan sistemik sejak dini, dengan satuan pendidikan sebagai episentrum intervensi sosial.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangka Barat (Plt. Kepala Disdikpora Kab. Bangka Barat), Teni Wahyuni, S.E., menegaskan bahwa sekolah harus bertransformasi menjadi ruang aman yang mampu melindungi anak secara utuh dalam akademik, psikologis, sosial dan moral.
“Anak-anak tidak selalu menjadi korban karena paksaan atau kekerasan. Banyak yang terjebak karena merasa diperhatikan dan dipercaya. Di sinilah peran pendidikan menjadi sangat penting, bukan hanya mengajar, tetapi melindungi,” ujar Teni Wahyuni, Kamis (29/01/2026).
Penegasan tersebut menguatkan pernyataan Kepala DP3APKB Bangka Barat, Sarbudiono, S.Pd., yang sebelumnya menyebut child grooming sebagai kejahatan sunyi. Bekerja secara perlahan melalui manipulasi emosional dan relasi kuasa, sering kali tanpa disadari korban maupun lingkungan sekitar.
Berbagai kajian UNICEF Indonesia dan ECPAT International mencatat bahwa mayoritas kekerasan seksual terhadap anak berawal dari proses grooming yang berlangsung lama dan sistematis. Fakta ini menempatkan sekolah sebagai ruang paling strategis untuk deteksi dini perubahan perilaku anak.
Sebagai bentuk konkret penguatan pencegahan, Disdikpora Bangka Barat menyatakan dukungan penuh terhadap Program GEBER (Gerakan Bimbingan dan Edukasi Remaja) yang diinisiasi oleh Kapolres Bangka Barat melalui Satuan Binmas Polres Bangka Barat.
Program GEBER menjadi simbol pendekatan baru negara dalam melindungi remaja mengedepankan edukasi, pembinaan karakter dan wawasan kamtibmas melalui metode persuasif dan humanis.
“GEBER adalah program Kapolres Bangka Barat. Kami di Disdikpora berkolaborasi dan memastikan satuan pendidikan siap menjadi ruang implementasinya,” tegas Teni Wahyuni.
Makna visual GEBER adalah aparat kepolisian sebagai pembimbing, simbol buku terbuka, api pengetahuan dan figur anak dalam merepresentasikan negara yang hadir sebagai pendamping, bukan sekadar penindak, dalam menjaga masa depan generasi muda.












