Editor: Bangdoi Ahada
SAMPUR, Berita5.co.id — Suwandi tak banyak bicara. Di usianya yang telah menua, sekitar 40 tahun, ia hanya mengulang satu hal yang paling membekas dalam ingatannya selama ini.
Yang dia tahu bahwa rumah yang telah ditempati selama puluhan tahun itu bakal digusur.
“Ini kan rumahku juga bakal digusur,” ucapnya pelan, menunjuk lokasi yang kini tak lagi utuh seperti dulu.
Selama 26 tahun, pria asal Jawa itu menetap di kawasan Sampur Bawah. Ia membangun hidup di sana, berkeluarga, dan membesarkan anak-anaknya.
Bahkan, salah satu anaknya yang telah meninggal dunia dimakamkan di belakang rumah tersebut, di tanah yang kini justru menjadi sumber persoalan.
Menurut pengakuan Suwandi, penggusuran bakal dilakukan dengan alasan perluasan area pemakaman.
Ia menyebut, pihak desa dan unsur masyarakat menyampaikan bahwa lahan tempat tinggalnya akan dijadikan pekuburan karena dianggap sudah sempit.
“Katanya untuk lapang (lahan) kuburan. Anak saya juga dikubur di situ,” ujarnya.
Namun, di balik alasan tersebut, muncul skema yang disebut sebagai modus tukar guling lahan.
Suwandi mengaku tidak pernah menyetujui hal itu.
“Pokoknya saya nggak setuju,” katanya tegas.
Ia menjelaskan, rencana tukar guling itu melibatkan lahan miliknya dengan lahan lain yang disebut milik seseorang bernama Kancil.












