Berita

Di Bawah Sumpah dan Bayang-Bayang Tambang: Rotasi 22 Pejabat Bangka Barat, Antara Citra Integritas dan Janji Pembangunan 

84
×

Di Bawah Sumpah dan Bayang-Bayang Tambang: Rotasi 22 Pejabat Bangka Barat, Antara Citra Integritas dan Janji Pembangunan 

Sebarkan artikel ini

Penulis: Belva Al Akhab dan Satrio

BANGKABARAT, Berita5.co.id — Di Gedung Graha Aparatur Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Rabu pagi, 18 Februari 2026, suara sumpah jabatan menggema di antara dinding-dinding beton yang menyimpan banyak sejarah kecil birokrasi.

Di hadapan Bupati Bangka Barat, Markus, 22 pejabat administrator dan pengawas mengucapkan janji setia kepada negara, kepada hukum dan kepada masyarakat Bangka Barat.

Di luar gedung, angin laut dari Selat Bangka membawa bau asin yang bercampur samar dengan bau solar ponton tambang. Di tanah timah, setiap sumpah jabatan selalu terdengar lebih berat, seolah alam sendiri ikut menyimak.

Pelantikan itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah panggung simbolik yang memadukan dua narasi yaitu pencitraan kepemimpinan dan kritik pembangunan.

Satu narasi berbicara tentang integritas birokrasi.

Narasi lain bertanya pelan, apakah sumpah itu akan menyentuh tanah, air, dan kehidupan warga Bangka Barat?

Di ruang pelantikan yang rapi dan terang, Markus berdiri dengan pidato yang terukur. Ia menyebut rotasi jabatan sebagai strategi pembaruan birokrasi.

“Pelantikan ini bukan sekadar pengisian jabatan. Ini bukti bahwa birokrasi kita harus bergerak, beradaptasi dan menata diri menuju pelayanan publik yang berkualitas dan profesional,” katanya.

Kalimat itu seperti mantra reformasi.

Ia menegaskan bahwa proses pelantikan telah mendapat persetujuan teknis dari Badan Kepegawaian Negara, menandakan legalitas administratif.

Namun publik Bangka Barat tahu, legalitas bukan segalanya.

Di desa-desa pesisir Tempilang, di kebun lada Simpang Teritip, di ruang tunggu RSUD Sejiran Setason, warga menunggu hal sederhana yaitu pelayanan cepat, bantuan tepat dan birokrasi yang tidak mempersulit.

Bagi mereka, sumpah jabatan baru berarti perubahan jika mereka merasakannya di meja pelayanan.

Sebanyak 22 pejabat dilantik. Nama-nama mereka dibacakan dengan khidmat. Dari kepala bagian hingga lurah.

Mereka berasal dari dinas kesehatan, lingkungan hidup, pertanian, perhubungan, hingga sekretariat daerah.

Secara administratif, pelantikan ini adalah tindak lanjut Keputusan Bupati Bangka Barat Nomor 100.3.3.2/41/BKPSDM/2026.

Namun dalam politik birokrasi, rotasi jabatan memiliki makna lain yaitu konsolidasi kekuasaan administratif.

Setiap mutasi adalah cara pemimpin memastikan organisasi berjalan sesuai arah.

Setiap rotasi adalah pesan loyalitas dan kontrol.

Dalam bahasa resmi, ini disebut reformasi birokrasi.

Dalam bahasa rakyat, ini disebut ganti kursi.

Publik selalu bertanya apakah kursi baru membawa cara kerja baru?

Dalam pidatonya, Markus berulang kali menyebut integritas. Ia menegaskan jabatan bukan hak, melainkan amanah.

“Saudara bukan sekadar pemegang struktur, tetapi penjaga ruh birokrasi. Jadilah penggerak perubahan,” katanya.

Kalimat itu penting bagi citra kepemimpinan.

Di tengah kritik publik tentang pelayanan lamban, birokrasi berbelit dan transparansi yang lemah, pelantikan pejabat menjadi panggung untuk menunjukkan perubahan sedang berlangsung.

Pemerintah daerah perlu kepercayaan publik. Pidato integritas adalah bagian dari strategi komunikasi itu.

Namun di tanah yang pernah digali ribuan lubang tambang, kata-kata sering diuji oleh kenyataan.

Integritas bukan slogan. Ia harus terlihat di laporan keuangan, di proses pengadaan, di pelayanan kesehatan, di izin usaha, di pengelolaan lingkungan.

Bangka Barat dan Luka Pembangunan

Bangka Barat bukan hanya daerah wisata pantai dan sejarah kolonial. Ia juga daerah dengan jejak panjang tambang timah.

Di banyak kampung, lubang tambang menganga seperti luka lama. Air menjadi keruh. Tanah kehilangan kesuburan.

Pembangunan di daerah timah selalu memiliki dua wajah.

Satu wajah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi.

Wajah lain berbicara tentang kerusakan lingkungan.

Karena itu, pelantikan pejabat lingkungan hidup, pertanian, dan perencanaan pembangunan bukan sekadar urusan kantor. Ia berkaitan langsung dengan masa depan tanah Bangka Barat.

Apakah pejabat baru akan menjaga lingkungan?

Atau hanya menjaga laporan administrasi?

Di kursi belakang ruang pelantikan, seorang ibu menggenggam tangan anaknya. Suaminya berdiri di depan, mengucap sumpah jabatan dengan suara bergetar.

Ia telah 25 tahun menjadi pegawai. Dari staf arsip hingga pejabat pengawas.

Pelantikan itu bagi keluarganya adalah kebanggaan. Tapi juga kecemasan.

Karena jabatan ASN bukan hanya soal pangkat. Ia tentang tanggung jawab moral.

Seorang pejabat baru berkata pelan.

“Kami sadar masyarakat menaruh harapan pada kami.” tutur salah satu pejabat pada kegiatan pelantikan.

Di balik kalimat sederhana itu, ada beban sejarah birokrasi Indonesia yang sering gagal memenuhi harapan rakyat.

Prosesi sumpah jabatan adalah inti acara.

Pejabat berjanji tidak menyalahgunakan wewenang. Tidak menerima gratifikasi. Bekerja demi masyarakat.

Namun sejarah menunjukkan sumpah tidak selalu menjamin integritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!