Penulis: Belva Al Akhab, Satrio
MENTOK, Berita5.co.id — Untuk pertama kalinya, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengirimkan atlet domino ke Kejuaraan Nasional ORADO 2026 yang berlangsung pada 24–27 April di Bogor.
Di permukaan, ini adalah kabar olahraga biasa. Namun di baliknya, tersimpan perubahan sosial yang lebih mendalam yaitu transformasi permainan rakyat menjadi medan prestasi yang mulai diakui negara.
Empat atlet muda yaitu Zikro Alhafsi (17) dan Syafiq Syawaludin (18) dari Mentok, serta Satria Adi Pratama (18) dari Parit Tiga bersama Muhammad Raja (17) menjadi representasi pertama dari daerah yang selama ini lebih dikenal dengan tambang timah ketimbang strategi meja domino.
Keberangkatan ini bukan sekadar partisipasi, melainkan sebuah deklarasi: bahwa Bangka Belitung sedang berusaha keluar dari bayang-bayang stereotip, membangun identitas baru melalui olahraga berbasis kecerdasan.
Domino, dalam sejarah sosial Indonesia, sering ditempatkan di ruang abu-abu antara hiburan rakyat dan praktik yang kerap diasosiasikan dengan perjudian. Dalam banyak penelitian antropologi permainan, seperti yang dikemukakan oleh Johan Huizinga dalam bukunya Homo Ludens, permainan bukan sekadar aktivitas santai, melainkan bagian dari konstruksi budaya yang membentuk cara berpikir manusia.
Apa yang terjadi di Bangka Belitung hari ini seolah menghidupkan kembali tesis tersebut, domino dipindahkan dari ruang kasual menuju arena kompetitif yang menuntut logika, ketenangan dan kalkulasi. Namun perjalanan ini tidak mulus.
Sejumlah pengamat olahraga daerah yang diwawancarai tim menyebutkan bahwa hingga kini, domino masih menghadapi tantangan legitimasi. Tidak semua pihak melihatnya sebagai olahraga “serius”. Bahkan, dalam beberapa kasus, kegiatan domino masih kerap disandingkan dengan praktik ilegal.
Di sinilah ORADO yang dalam beberapa tahun terakhir mulai mendorong standardisasi kompetisi domino nasional berperan sebagai institusi legitimasi.
Kejuaraan Nasional ORADO 2026 menjadi panggung penting dalam upaya memformalkan domino sebagai cabang olahraga berbasis strategi. Meski belum sepopuler catur atau bridge, domino mulai menemukan ruangnya.
Mengacu pada pendekatan sportifikasi yakni proses perubahan permainan menjadi olahraga formal yang dibahas dalam kajian Sosiologi Olahraga, sebuah aktivitas dapat diakui sebagai olahraga jika memiliki aturan baku, sistem kompetisi dan organisasi resmi.
ORADO mencoba memenuhi ketiga unsur tersebut. Namun, pertanyaan kritis tetap muncul apakah ini sekadar euforia sesaat atau benar-benar awal dari ekosistem olahraga baru?
Di Mentok dan Parit Tiga, kisah ini tidak dimulai dari pelatihan profesional atau fasilitas megah. Ia tumbuh dari meja kayu, kopi hitam dan percakapan panjang di antara generasi.












