Penulis: Belva Al Akhab, Satrio
MENTOK, Berita5.co.id — Di sebuah kota yang lama hidup dalam romantika masa lalu sekaligus kecemasan akan masa depan, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat kini memainkan langkah yang lebih beran untuk menjahit ulang identitas Mentok melalui proyek Penataan Kawasan Kota Tua dengan konsep Kluster Eropa.
Sebuah pembangunan yang tidak hanya menyasar ruang, tetapi juga memori, ekonomi dan harga diri kolektif masyarakat.
Di atas lahan yang dulu hanya padang rumput dan kini bernama Taman Lokomobil serta Lapangan Gelora, proyek ini mulai digerakkan.
Bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan sebuah pernyataan politik pembangunan bahwa Mentok tidak akan terus menjadi kota yang dikenang, tetapi kota yang kembali diperhitungkan.
Plt Kepala BKPSDM Bangka Barat, Heru Warsito, menempatkan proyek ini dalam kerangka strategis yang tegas sebagai momentum langka yang datang dari pusat, tanpa membebani kas daerah.
“Ini bukan menggunakan APBD. Artinya, kita diberi ruang oleh negara untuk bergerak lebih cepat. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya agar benar-benar berdampak pada masyarakat,” ujarnya.
Di titik ini, Pemkab Bangka Barat tidak hanya bertindak sebagai pelaksana proyek, tetapi sebagai aktor yang sedang diuji mampukah mereka mengubah bantuan pusat menjadi transformasi nyata?
Namun pembangunan ini tidak berdiri di ruang kosong. Ia tumbuh dari lapisan sejarah yang panjang dan personal.
Sekretaris Daerah Bangka Barat, Abimanyu, menghadirkan dimensi yang lebih dalam. Sebuah narasi yang menghubungkan masa kecilnya dengan masa depan kota.
Ia berbicara bukan sebagai pejabat semata, tetapi sebagai saksi hidup perubahan ruang.
“Dulu ini hanya hamparan rumput. Tempat orang menggembalakan sapi dan kambing. Sekarang berubah dan akan kembali berubah,” ungkapnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan makna besar bahwa Mentok sedang bergerak dari lanskap agraris menuju lanskap ekonomi berbasis sejarah dan pariwisata.
Sebuah lompatan yang tidak hanya mengubah tata kota, tetapi juga cara masyarakat memandang ruang hidup mereka.
Seperti banyak proyek besar di Indonesia, Kluster Eropa bukan cerita tentang kelancaran, melainkan tentang ketahanan menghadapi penundaan.
Rencana yang telah disusun sejak 2023 melalui Detail Engineering Design (DED) harus tertatih akibat pandemi COVID-19 dan penyesuaian fiskal nasional.
Anggaran yang semula diproyeksikan mencapai Rp 65 miliar menyusut drastis. Namun bagi Abimanyu, esensi pembangunan tidak pernah semata-mata tentang angka.
“Yang penting ini berjalan. Yang penting ini bisa mengubah wajah Mentok,” tegasnya.
Di balik pernyataan itu, tersimpan filosofi pembangunan yang lebih realistis. Lebih baik bergerak dengan keterbatasan daripada terjebak dalam rencana besar yang tidak pernah terwujud.
Pembangunan ini juga lahir dari tekanan sosial yang tidak bisa diabaikan. Dalam nada yang jujur, Abimanyu mengakui adanya kegelisahan masyarakat yang selama ini mempertanyakan stagnasi kota mereka.
“Masyarakat sudah lama bertanya, kenapa Mentok tidak berubah. Bahkan kita sering dibandingkan dan dianggap tertinggal.” ungkapnya.
Pengakuan ini menjadi titik balik penting. Ia menandai bahwa pembangunan Kluster Eropa bukan hanya agenda pemerintah, tetapi respons terhadap krisis kepercayaan publik.
Dalam konteks ini, Pemkab Bangka Barat sedang melakukan lebih dari sekadar membangun infrastruktur, mereka sedang berusaha memulihkan kepercayaan.
Konsep Kluster Eropa sendiri bukan pilihan tanpa makna. Ia sebagai upaya untuk menghidupkan kembali karakter historis Mentok sebagai kota kolonial yang pernah menjadi simpul penting dalam jalur perdagangan dan pemerintahan.
Namun Pemkab Bangka Barat tampaknya tidak ingin berhenti pada romantisme sejarah.












