Berita

Camat Tempilang Turun Tangan: Menyapu Speedboat dan Menantang Aktor Balik Aktivitas Tambang Ilegal Pantai Pasir Kuning

84
×

Camat Tempilang Turun Tangan: Menyapu Speedboat dan Menantang Aktor Balik Aktivitas Tambang Ilegal Pantai Pasir Kuning

Sebarkan artikel ini

Ia menyebut jarak sebagai solusi beberapa ratus meter dari bibir pantai.

Namun, pertanyaannya bukan hanya soal jarak.

Melainkan soal kesadaran seberapa jauh kerusakan harus terjadi sebelum batas itu benar-benar dihormati?

“Beberapa ratus meter dari bibir pantai seharusnya sudah menjadi batas aman,” tegasnya.

Di lapangan, perubahan itu mulai terlihat meski perlahan.

Speedboat mulai dipindahkan. Warung mulai dibersihkan. Pantai yang sebelumnya semrawut perlahan menemukan kembali bentuknya. Tetapi seperti luka yang baru dibersihkan, bekasnya masih terasa.

Bagi nelayan, ini bukan sekadar penataan visual.

Ini tentang harapan yang sempat memudar.

Laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka, perlahan kehilangan daya dukungnya. Air yang keruh bukan sekadar perubahan warna, tetapi tanda bahwa sesuatu sedang terganggu di bawah permukaan.

Bagi pemilik warung, penataan ini membuka peluang baru yaitu ruang yang lebih rapi, lebih layak dan mungkin lebih menjanjikan bagi wisata.

Namun, di balik itu semua, tersimpan satu kesadaran yang mulai tumbuh bahwa ketertiban bukan hanya soal estetika, tetapi soal keberanian untuk mengatur diri.

Pantai Pasir Kuning bukan sekadar destinasi. Ia sebagai ruang hidup, ruang sosial dan ruang ingatan. Tempat anak-anak berlari, nelayan bersandar, dan masyarakat membangun relasi dengan laut.

Ketika ruang itu terganggu, yang hilang bukan hanya keindahan, tetapi juga makna.

Langkah yang diambil Camat Tempilang hari itu menjadi penting bukan karena ia menyelesaikan segalanya, tetapi karena ia memulai sesuatu yang selama ini tertunda yaitu keberanian untuk menertibkan.

“Kita ingin kawasan ini tertata dengan baik. Wisata berkembang, ekonomi berjalan, tetapi lingkungan tetap terjaga,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar ideal. Dan mungkin memang demikian.

Namun di Pantai Pasir Kuning, idealisme kini sedang diuji oleh kepentingan, oleh kebiasaan lama dan oleh sistem yang kadang lebih nyaman dalam diam.

Penertiban speedboat mungkin bisa dilakukan dalam hitungan hari.

Membersihkan warung bisa dilakukan dalam hitungan minggu.

Tetapi menertibkan cara pandang bahwa laut bukan ruang bebas eksploitasi itu sebagai pekerjaan yang jauh lebih panjang.

Kini, Pantai Pasir Kuning memasuki fase baru.

Bukan sekadar fase penataan fisik, tetapi fase kesadaran bahwa menjaga lebih sulit daripada mengambil dan bahwa keberanian seorang pemimpin hanya akan berarti jika diikuti oleh keberanian bersama.

Di antara suara ombak yang terus datang dan pergi, satu pertanyaan tetap tinggal diam, tapi mendesak apakah ini benar-benar awal perubahan atau hanya jeda sebelum semuanya kembali seperti semula?. (B5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!