Penulis: Belva Al Akhab, Satrio
MENTOK, Berita5.co.id — Pagi itu terasa seperti banyak pagi seremonial lainnya dengan kursi tersusun rapi, wajah-wajah resmi bersiap tersenyum dan tepuk tangan menunggu aba-aba.
Namun di Gedung Majapahit Unmet PT Timah Tbk, Senin, 20 April 2026, Bupati Bangka Barat memilih untuk tidak sekadar hadir sebagai pembuka acara. Ia hadir sebagai narator atau mungkin, penulis skenario tentang masa depan yang ingin ia bentuk.
Grand Final Pemilihan Duta Generasi Berencana (Genre) 2026 mendadak menjelma lebih dari sekadar ajang seleksi.
Ia menjadi panggung di mana kekuasaan berbicara dengan bahasa yang lebih halus tentang bahasa harapan, kecemasan dan di sela-selanya pencapaian yang terukur.
“Nasib Bangka Barat ke depan ada di tangan generasi penerus bangsa,” ujar Markus, S.H., dengan tekanan suara yang tidak sekadar formalitas. Kalimat itu terdengar seperti kutipan klasik, tetapi di ruang itu, ia berubah menjadi semacam mandat atau bahkan beban yang diserahkan kepada mereka yang masih mencari jati diri.
Ia melangkah lebih jauh, hampir seperti sedang membangun narasi personalnya sendiri sebagai pemimpin yang sadar zaman.
“Jangan sia-siakan masa remaja dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadikan kalian remaja yang cerdas dan tangguh, menyiapkan masa depan dengan baik dan tenang,” ucapnya, seolah bukan hanya menasihati, tetapi juga menegaskan posisi moralnya di hadapan generasi muda.
Namun Markus tidak bermain di wilayah aman. Ia menyentuh luka yang selama ini menjadi bayang-bayang pembangunan yaitu stunting. Dengan nada yang terkontrol, ia membuka fakta yang tidak selalu nyaman.
“Kabupaten Bangka Barat saat ini masih dihadapkan dengan permasalahan stunting, meskipun angka prevalensi sudah di bawah 14 persen, masih ada beberapa desa dengan angka di atas 20 persen,” ungkapnya.
Di titik ini, pidato itu berubah menjadi semacam pengakuan publik bahwa di balik statistik yang membaik, ada realitas yang belum selesai.
Seperti seorang orator yang memahami dramaturgi, Markus tidak berhenti pada masalah. Ia segera menggeser arah pembicaraan menuju solusi yang lebih simbolik, namun kuat secara naratif di dalam kata remaja.
“Saya harapkan kegiatan ini dapat menjadi wadah kreativitas dan inovasi remaja untuk membantu program pemerintah dalam mengatasi permasalahan stunting, pernikahan dini, seks pra nikah dan napza,” katanya.
Kalimat itu bukan sekadar ajakan. Ia sebagai bentuk pelimpahan peran. Dalam konstruksi yang dibangun, Duta Genre bukan lagi sekadar duta kampanye, melainkan “alat tempur sosial” generasi yang diproyeksikan untuk mengisi celah yang tidak mampu dijangkau sepenuhnya oleh birokrasi.
Lebih jauh, Markus seolah ingin memastikan bahwa peran itu tidak berhenti pada simbolisme.
“Tidak hanya sekadar seremonial belaka tanpa ada hasil yang nyata,” tegasnya, dalam nada yang terdengar seperti kritik baik ke dalam maupun ke luar.












