BangkaBangka BelitungBelitungBudayaEdukasiLokalMelayuNasional

Batin Tikal Resmi Dijadikan Nama Rumah Sakit Tentara di Pangkalpinang, Keturunan Batin Tikal Diundang Prabowo

411
×

Batin Tikal Resmi Dijadikan Nama Rumah Sakit Tentara di Pangkalpinang, Keturunan Batin Tikal Diundang Prabowo

Sebarkan artikel ini
Keturunan Batin Tikal, Sani Timpang dan Kulul Sari turut di undang untuk menghadiri peresmian rumah sakit Batin Tikal yang diresmikan secara simbolis di gedung RSPN Panglima Besar Jenderal Soedirman di Jakarta, Senin (19/2/2024). (kulul/berita5.co.id)

Oleh : Abok Amang
JAKARTA, berita5.co.id — Presiden Joko Widodo di dampingi Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto meresmikan Rumah Sakit Pertahanan Negara Panglima Besar Jenderal Soedirman dan 25 rumah sakit tentara lainnya, di Jalan RC Veteran Raya nomor 178 RT. 1/RW 2 Bintaro kecamatan Pesanggarahan Jakarta Selatan, Senin (19/2/2024).

Salah satu rumah sakit Tentara yang ikut diresmikan secara simbolis itu adalah Rumah Sakit Batin Tikal, yang terletak di Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Sebagai perwakilan dari keturunan Batin Tikal, Sani Timpang dan Kulul Sari turut di undang untuk menghadiri peresmian rumah sakit Batin Tikal yang diresmikan secara simbolis di gedung RSPN Panglima Besar Jenderal Soedirman di Jakarta.

“Undangan ini merupakan suatu kehormatan bagi kami dan pengakuan dari Pemerintah Republik Indonesia kepada pejuang Bangka Belitung yaitu Batin Tikal, sehingga namanya diabadikan sebagai Rumah Sakit yang berada di Pangkalpinang ibu kota Provinsi Bangka Belitung. Batin Tikal memang layak untuk di perjuangkan dan di jadikan salah satu pahlawan Nasional dari Bangka Belitung,” ujar Kulul Sari.

Rumah Sakit Batin Tikal

Tentang keberadaan Rumah Sakit sebagai fasilitas kesehatan di Pulau Bangka menurut sejarawan Bangka Belitung Dato’ Akhmad Elvian dapat dipelajari dari beberapa buku, laporan dan catatan Belanda.

Dijelaskannya bahwa rumah sakit tentara di Pulau Bangka yang saat ini disebut dengan Rumah Sakit Batin Tikal pada awalnya didirikan untuk merawat orang korban perang.

Pada saat perlawanan rakyat Bangka dipimpin oleh Depati Amir, seorang petinggi militer Belanda W.A. van Rees, dalam bukunya: Wachia, Taykong en Amir, Rotterdam: H.Nijgh,1859, menyatakan: “Pasukan-pasukan yang didatangkan itu berturut-turut kembali ke Jawa.

Mereka tidak dapat berbangga pada perwira-perwira perang yang gemilang, pada kemenangan yang diperoleh dalam asap mesiu dan genangan darah; mereka hanya menunjuk pada wajah-wajah mereka yang lesu, tak sehat pada anggota-anggota badan mereka yang kurus, pada tempat-tempat yang kosong dalam barisan mereka dan pada Rumah Sakit Mentok yang penuh”.

Akibat dari peperangan tidak saja menimpa pasukan militer Belanda dan pasukan pejuang Bangka, akan tetapi juga berdampak buruk bagi rakyat Bangka.

Pemerintah Kolonial Belanda, setelah perang rakyat Bangka yang dipimpin oleh Depati Amir sedikit mulai memperhatikan kesehatan, pendidikan dan pelayanan sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!