BANGKA, Berita5.co.id — Apa yang terjadi di Desa Nangka, Kecamatan Air Gegas, bukan lagi sekadar keluhan soal jalan rusak. Ini adalah ledakan kemarahan warga yang merasa diinjak oleh kepentingan investasi yang datang membawa alat berat, tetapi meninggalkan penderitaan.
Jalan Tani yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi masyarakat kini berubah bak kubangan lumpur dan jebakan maut. Ironisnya, kerusakan itu terjadi justru setelah aktivitas proyek PT Bukit Palma Prima (PT BPP) keluar masuk tanpa henti selama berbulan-bulan.
Warga menilai perusahaan datang dengan janji kesejahteraan, namun yang tersisa justru luka bagi desa. Hasil kebun terganggu, akses ekonomi lumpuh, dan aktivitas harian masyarakat dipersulit oleh jalan yang hancur perlahan.
Ketika harapan tak lagi dijawab, warga akhirnya bergerak sendiri. Dengan biaya swadaya, mereka mengurug jalan menggunakan tanah puru—sebuah simbol bahwa masyarakat kecil dipaksa memperbaiki kerusakan yang bukan mereka ciptakan.
Lebih keras lagi, warga kini memasang garis tegas: alat berat dan kendaraan operasional PT BPP dilarang melintas di Jalan Tani. Pos penjagaan didirikan. Bukan untuk mencari konflik, tetapi sebagai bentuk perlawanan terhadap sikap perusahaan yang dinilai tutup mata.












