Penulis: Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
TEMPILANG, Berita5.co.id — Senja di Tempilang, Senin (9/2/2026), tidak turun perlahan.
Ia meledak bersama suara ribuan manusia yang menyatu dalam nyanyian.
Ketika Andika Kangen Band melangkah ke atas panggung Festival Perang Ketupat Tempilang 2026, pantai yang biasanya tenang berubah menjadi lautan manusia.
Tangan terangkat, suara bersahut, dan lagu-lagu yang pernah mengisi ruang batin masyarakat kelas akar rumput kembali hidup kali ini dalam perayaan budaya yang nyaris tanpa jarak.
Lagu demi lagu dilantunkan. Dari bibir anak-anak muda hingga orang tua, semua ikut bernyanyi.
Tradisi yang lahir dari ritual adat itu menjelma menjadi pesta budaya rakyat, paling meriah yang pernah disaksikan Tempilang dalam beberapa tahun terakhir.
Kehadiran Andika Kangen Band menjadi titik kulminasi festival yang sejak sehari sebelumnya telah dipenuhi ritual adat dan keramaian massa.
Musik pop melayu yang identik dengan kisah cinta sederhana, luka dan harapan berpadu dengan semangat kolektif Perang Ketupat, menciptakan suasana yang hangat, intim dan membuncah.
“Saya merasa sangat terhormat bisa hadir dan bernyanyi di Festival Perang Ketupat Tempilang 2026. Ini luar biasa. Saya tidak hanya melihat penonton, tapi melihat kebersamaan, melihat budaya yang hidup,” ujar Andika, dengan suara sedikit tertahan oleh gemuruh sorak penonton.
“Ini bukan sekadar konser. Ini perayaan jati diri,” tambahnya.
Sejak Minggu (8/2/2026), Festival Perang Ketupat telah diawali dengan rangkaian ritual adat, Penimbongan, Ngancak Penimbong, Taber Kampung, tarian Serimbang dan Kedidi, hingga silat Seramo adat dari perguruan Mawar Putih.
Prosesi doa arwah dan doa selamat mengikat seluruh rangkaian pada nilai spiritual dan penghormatan kepada leluhur.
Namun ketika sore tiba di hari kedua, ruang budaya itu beralih wajah. Dari sakral menjadi riuh.
Dari hening doa menjadi koor ribuan suara. Saat Andika Kangen Band naik ke panggung, kerumunan membeludak hingga ke luar area pembatas.
“Datang niat nonton Perang Ketupat, pulangnya seperti nonton konser nasional. Rasanya lengkap,” kata Rina (27), pengunjung asal Mentok, dengan mata masih berbinar.
“Ini bukan cuma ramai, tapi hidup. Saya baru pertama kali lihat Tempilang seramai dan sehangat ini,” ujar Johan (41), warga Kelapa.












