Di belakang mereka, sebuah spanduk besar bertuliskan Aditya Group berdiri sebagai penanda identitas. Di dalamnya tergambar beragam lini usaha dari penjualan kendaraan, jasa rental, penginapan, hingga layanan lainnya. Namun pada hari itu, semua identitas tersebut seakan melebur, menyisakan satu makna yang paling mendasar: keberadaan.
Keberadaan yang tidak hanya terlihat dalam bentuk usaha, tetapi juga dalam bentuk kepedulian.
Ramadan yang hampir usai membawa refleksi yang tak terelakkan. Waktu yang singkat itu kembali mengajarkan bahwa kesempatan untuk berbagi tidak pernah datang dua kali dalam bentuk yang sama.
“Ramadan selalu terasa cepat berlalu. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa Ramadan tahun ini lebih baik dari sebelumnya,” ucap Aditya, menutup sambutannya.
Di sisi lain, suara masyarakat menjadi gema yang memperkuat makna dari kegiatan tersebut.
Siti Aminah (52), salah seorang penerima santunan, menuturkan dengan suara bergetar bahwa bantuan itu datang di saat yang tepat yaitu di tengah kebutuhan yang semakin mendesak menjelang Lebaran.
“Alhamdulillah, bantuan dari Aditya Group ini sangat membantu kami. Bukan hanya soal isinya, tapi kami merasa diperhatikan. Di saat banyak orang sibuk dengan urusan masing-masing, masih ada yang peduli dengan kami,” ujarnya.
Sementara itu, Hasan (60) melihat lebih dari sekadar bantuan. Ia melihat konsistensi. Sesuatu yang jarang bertahan dalam dunia yang serba cepat berubah.
“Setiap tahun mereka datang, tidak pernah lupa dengan masyarakat kecil seperti kami. Ini bukan hanya santunan, tapi bukti bahwa Aditya Group punya hati untuk berbagi. Kami merasa dihargai sebagai manusia,” katanya.
Pernyataan-pernyataan itu menjadi cermin paling jujur dari apa yang telah dilakukan. Bahwa di balik angka 65 penerima, ada 65 cerita, 65 harapan dan 65 doa yang terangkat ke langit senja Muntok.
Menjelang azan magrib, langit perlahan meredup. Namun di antara redupnya cahaya, justru lahir terang yang lain terang yang tidak berasal dari matahari, melainkan dari kepedulian.
Di sanalah, Ramadan menemukan maknanya yang paling utuh.
Bukan pada kemeriahan, tetapi pada kehadiran.
Bukan pada jumlah, tetapi pada ketulusan.
Melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, Aditya Group sedang menulis satu pesan yang sederhana namun kuat
bahwa bisnis yang besar bukan hanya yang tumbuh tinggi, tetapi yang mampu merunduk untuk menyentuh kehidupan manusia. (B5)












