Berita

Nama Dicatut, Fakta Dipelintir: Cacan Murka, Oknum Wartawan Ajay Ngaku Suruhan Bos Solar Belitung Pian

444
×

Nama Dicatut, Fakta Dipelintir: Cacan Murka, Oknum Wartawan Ajay Ngaku Suruhan Bos Solar Belitung Pian

Sebarkan artikel ini

Alih-alih memberikan klarifikasi serius, Ajay justru merespons dengan nada meremehkan.

Dalam pesan WhatsApp yang dikirim kepada Tim RadakBabael pada Selasa (20/1/2025), Ajay menulis:

“Hahhaa senior. Awalnya hanya pengen tau. Nama Cacan kan gak hanya Cacan bang. Kan banyak pipit cacan. Takutlah apalagi ini mau maju Ketua PWI Belitung. Bisa dianulir mas boy.”

Jawaban ini justru mempertegas kegelisahan banyak pihak.

Tidak ada penjelasan jurnalistik, tidak ada permintaan maaf, dan tidak ada klarifikasi substansi. Yang muncul justru tawa, dan insinuasi politik.

Bagi Cacan, pernyataan itu menjadi bukti bahwa pencatutan nama dilakukan secara sadar, bukan kekeliruan.

Ancaman Jalur Hukum

Merasa dirugikan, Cacan menyatakan tengah mempertimbangkan langkah hukum terhadap Ajay.

Ia menuntut klarifikasi terbuka dan penjelasan resmi mengapa namanya digunakan tanpa persetujuan.

“Saya tidak terima nama saya dipakai tanpa izin. Dia harus bertanggung jawab dan menjelaskan ke publik,” kata Cacan dengan nada kesal.

Langkah hukum ini, jika benar ditempuh, berpotensi membuka tabir lain, bagaimana praktik jurnalisme dijalankan di tengah isu besar seperti solar ilegal, dan sejauh mana etika dikorbankan demi kepentingan tertentu.

Solar Ilegal dan Jurnalisme Bermasalah

Kasus ini menjadi ironi ganda. Di satu sisi, publik Belitung dihadapkan pada dugaan jaringan solar ilegal yang sistematis, mulai dari “kencingan” kapal tanker, penyelewengan solar subsidi SPBU dan SPBN, hingga distribusi ke tambang timah ilegal.

Di sisi lain, muncul praktik pemberitaan yang mencederai prinsip dasar jurnalistik yakni verifikasi, konfirmasi, dan persetujuan narasumber.

Jika nama bisa dicatut sembarangan, jika narasumber bisa “diciptakan” tanpa wawancara, maka publik berhak bertanya, mana fakta, mana rekayasa?

Polemik antara Cacan dan Ajay bukan sekadar konflik personal.

Ia adalah alarm keras bagi dunia pers lokal dan penegakan etika media.

Sebab di tengah gelapnya praktik ilegal, jurnalisme seharusnya menjadi cahaya—bukan justru menambah kabut.

Publik Belitung kini menunggu dua hal sekaligus, apakah jaringan solar ilegal benar-benar disentuh hukum, dan apakah pencatutan nama dalam pemberitaan akan dibiarkan tanpa konsekuensi. (Radak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *